Rabu, 05 November 2014

Proses Terjadinya Pelangi

1     Bagaimana pelangi bisa terjadi?
Proses terjadinya pelangi adalah bermula dari ketika cahaya matahari melewati sebuah tetes hujan yang kemudian dibelokkan atau dibiaskan menuju tengah tetes hujan tersebut, yang memisahkan cahaya putih itu menjadi sebuah warna spektrum. Kemudian, warna-warna yang terpisah ini memantul di belakang tetes hujan dan memisah lebih banyak lagi saat meninggalkannya. Akibatnya, cahaya tampak melengkung menjadi kurva warna yang disebut sebagai pelangi. Cahaya dengan panjang gelombang terpendek seperti ungu, terdapat di bagian kurva dan yang memiliki panjang gelombang terpanjang seperti merah terdapat pada bagian luar.

Pada abad ke-17, ilmuwan inggris, Isaac Newton, (1642 -1727) menemukan bahwa cahaya putih matahari sebenarnya adalah campuran dari cahaya berbagai warna. Dia menyorotkan sedikit sinar matahari melalui sebuah prisma kaca berbentuk segitiga (balok kaca) dalam sebuah ruang gelap. Bentuk prisma tersebut membuat berkas sinarnya membelok dan kemudian memisah menjadi suatu pita cahaya yang lebar. Di dalam pita ini, Newton melihat tujuh warna yang disebut spektrum. Warna-warna ini adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu (sebutan mudahnya "mejikuhibiniu").

Semua cahaya bergerak dalam bentuk gelombang. Panjang gelombang adalah yang menentukan warna cahaya tersebut. Kadang, sebuah pelangi kedua yang lebih redup dapt terlihat di atas pelagi utama karena cahaya telah dipantulkan atau dibiaskan lebih dari sekali di dalam tetes-tetes ai hujan. Warna-warna pelangi kedua ini terbalik, merah di dalam dan ungu diluar. Warnanya tidak pernah secerah pelangi utama karena setiap kali cahaya dipantulkan, ada sedikit cahaya yang hilang.

Pada tahun 1852, ilmuwan Jerman, Ernst Von Brycke, menyatakan bahwa warna biru langit diakibatkan oleh partikel-partikel di atmosfer yang menyebarkan cahaya matahari saat memasuki atmosfer. Kemudian, dua fisikawan Inggris, Lord Rayleigh (1842-1919) dan John Tyndall (1820-1893) mempunyai penjelasan lain. Rayleigh berpendapat bawah bagian biru dari cahaya matahari disebarkan oleh debu dan uap air, tetapi dia salah. Molekul udara sendirilah yang menyebarkan cahaya. Meskipun demikian kita masih menyebut jenis penyeberan ini sebagai efek Tyndall, atau penyebaran Rayleigh, sesuai dengan nama kedua ilmuwan tersebut.

Pelangi dan efek cahaya lain di langit disebabkan oleh cahaya yang membias dan menyimpang menjauhi partikel. Saat Matahari terbenam, langit menjadi merah karena sinar matahari lewat melalui atmosfer yang jauh lebih tebal daripada ketika matahari berada tinggi di langit pada siang hari. Cahaya biru disebarkan diluar jalur cahaya, dan kita melihat panjang gelombang yang lebih merah. 

Sumber Bacaan:

http://smartinyourhand.blogspot.com/2012/04/proses-terjadinya-pelangi-bagaimana.html

Langit pada saat cerah berwarna biru dan pada sore hari berwarna coklat kemerahan

       Mengapa langit pada saat cerah berwarna biru, sedangkan pada sore hari berwarna coklat kemerahan?

       Langit pada saat cerah berwarna biru karena di sebabkan oleh beberapa factor yang mempengaruhi warna langit tersebut di antaranya:
1. ada tidaknya atmosfer ( jika tidak mempunyai atmosfer langit selalu gelap).
2. komposisi zat di atmosfer
3. jenis cahaya dari sumber cahaya
4. keadaan atmosfer

      Bumi memiliki atmosfer, maka dari itu langit di Bumi (pada siang hari) tidak gelap. Zat atmosfer Bumi yang paling dominan adalah nitrogen dan oksigen. Bumi pun disinari dengan cahaya putih dari matahari.
      Cahaya matahari yang berwarna putih ini adalah cahaya polikromatik, yaitu cahaya yang berasal dari gabungan banyak warna cahaya. cahaya polikromatik matahari ini terdiri dari 7 cahaya monokromatik (cahaya tunggal) yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu (Sering disingkat mejikuhibiniu).

       Saat cahaya matahari memasuki atmosfer, cahaya ini akan terdispersi (penguraian cahaya polikromatik menjadi beberapa cahaya monokromatik) menjadi cahaya berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu.

       Dari ke semua cahaya monokromatik ini, cahaya yang berfrekuensi tinggi lebih mudah dihamburkan oleh molekul nitrogen dan oksigen yaitu warna cahaya hijau, biru, nila dan ungu dan cahaya tersebut akhirnya masuk ke mata kita. Kejadian ini disebut sebagai penghamburan Rayleigh. Karena mata kita lebih sensitif terhadap cahaya biru daripada hijau, nila dan ungu, maka terlihatlah langit yang berwarna biru.

Apa yang terjadi pada siang hari


Pada siang hari, cahaya matahari melintas dengan jarak yang lebih pendek. Jika kita misalkan cahaya matahari memiliki elemen R-G-B, maka pada saat sinar matahari memasuki atmosfer bumi, maka
cahaya dengan panjang gelombang paling pendek (cahaya biru) akan di sebarkan ke mana-mana,
cahaya hijau yang memiliki panjang gelombang di tengah akan di sebarkan lebih sedikit dari cahaya biru, dan lebih banyak cahaya hijau yang diteruskan ke mata pengamat
cahaya merah yang memiliki gelombang paling panjang akan paling sedikit disebarkan. Jadi sebagian besar akan langsung sampai ke mata pengamat
Perjalanan spektrum di siang hari
Akibatnya apa yang terjadi,
jika pengamat melihat ke matahari, maka yang akan dia lihat adalah dominan R-G maka sesuai dengan gambar roda RGB di atas, gabungan R-G akan menghasilkan warna kuning. Itulah sebabnya lingkaran matahari siang berwarna antara putih kekuningan (karena tetap ada sebagian kecil cahaya biru yang sampai ke mata pengamat).
jika pengamat melihat ke langit, maka tentu saja yang dia lihat adalah mayoritas spektrum biru. Dan warna langitpun akhirnya terlihat biru.

Sedangkan saat sore hari, matahari berada dekat kaki langit, sehingga cahaya matahari harus menempuh jarak yang lebih jauh saat memasuki atmosfer Bumi. Karena hal itu, cahaya berfrekuensi tinggi dihamburkan terus-menurus, sehingga intensitas cahaya tersebut berkurang dan tidak dapat dilihat oleh mata.

Karena menempuh jarak yang panjang, semakin banyak cahaya putih yang dihamburkan cahaya berfrekuensi tingginya, sehingga memberi warna kuning kejinggaan pada matahari. Langit juga berwarna kemerahan karena cahaya tersebut di refleksikan oleh debu di udara dan akhirnya cahaya tersebut masuk ke mata kita. Karena menempuh jarak yang lebih panjang lagi, cahaya kuning dapat terhamburkan.
Apa yang terjadi disore hari
Pada sore hari, cahaya matahari melintas dengan jarak yang jauh lebih panjang. Saking panjangnya,
cahaya dengan panjang gelombang paling pendek (cahaya biru) akan di sebarkan ke mana-mana, dan akan sangat sedikit cahaya biru yang sampai ke pengamat baik jika dia melihat langit ataupun lingkaran matahari
cahaya hijau yang memiliki panjang gelombang di tengah juga akan ikut tersebarkan.
cahaya merah yang memiliki gelombang paling panjang akan paling sedikit disebarkan. Jadi sebagian besar akan langsung sampai ke mata pengamat
Akibatnya apa yang terjadi,
Cahaya yag sampai ke pengamat baik di langit ataupun di lingkaran matahari adalah R dominan dengan G kurang dominan. Kombinasi warna ini memberikan kesan lingkaran matahari berwarna merah dominan ke arah jingga
sementara jika pengamat melihat ke langit cahaya akan lebih dominan ke arah jingga karena intensitas G yang lebih besar dari pada saat pengamat melihat ke  lingkaran matahari.

Sumber Bacaan :


The Dry Valleys di Antartika




The Dry Valleys atau lembah kering adalah sebuah daerah di antartika yang tidak ditutupi oleh lapisan es beku abadi yang pada umumnya menjadi ciri khas daerah antartika. Di lembah ini tidak ada curah hujan lebih dari 2 juta tahun, kecuali salah satu lembah disana, yang mana danaunya sebentar teraliri air di musim panas.  The Dry Valleys tidak mengandung uap air (air, es, atau salju) dan tetapi memiliki tingkat kelembaban yang sangat tinggi.
Penyebab terbentuknya The Dry Valleys adalah karena angin Katabatic dengan kecepatan 200 mil per jam yang segera menguapkan semua air yang ada. The Dry Valleys sangat aneh, kecuali beberapa karang terjal disana, daerah itu adalah satu-satunya daerah di Antartika yang tidak dilingkupi es. Berada pada daerah Trans-Antartica, menghadap pada daerah pegunungan yang mana penguapan (atau sublimasi) disana lebih tinggi daripada turunnya salju menyebabkan seluruh es menghilang, sehingga yang tampak hanyalah dataran gundul yang gersang.
Tapi hingga kini penyebab pastinya fenomena  The Dry Valleys belum ada yang dapat menjelaskan secara pastinya.

Sumber Bacaan :



Kamis, 23 Oktober 2014

Siklus Hidrologi







Siklus Hidrologi (siklus air)
Assalamu'alaikum wr.wb.

Air merupakan salah satu komponen paling penting dalam membentuk sebuah kehidupan. Sejauh ini, Bumi merupakan satu-satunya planet yang memiliki air dan memiliki kehidupan, sementara itu banyak exoplanet lain yang ditemukan juga memiliki air namun tidak diketahui apakah terdapat unsur kehidupan di dalamnya atau tidak.

Fenomena-fenomena yang melibatkan air seperti penguapan, hujan, kabut dan lain- lain seringkali menimbulkan pertanyaan "bagaimana air bisa terus ada di permukaan bumi dan terus menerus menyokong dan mempertahankan kehidupan di muka bumi?". Untuk itu pada postingan kali ini penulis akan membahas tentang siklus hidrologi (siklus air).

Air dapat mengalami penguapan menjadi gas dan gas yang mengandung uap air dapat kembali berubah menjadi air karena adanya tekanan. Macam-macam bentuk perubahan wujud zat telah sama-sama kita pelajari mulai dari bangku SMP, jadi penulis rasa tidaklah perlu untuk kembali dijelaskan. Untuk sekedar membangkitkan memori tentang perubahan wujud zat, perhatikan gambar di bawah:









Sumber: http://arifkristanta.files.wordpress.com/2012/10/perubahan-wujud.png

Siklus hidrologi adalah siklus perputaran air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke permukaan bumi dan kembali lagi ke atmosfer sehingga memungkinkan air akan selalu ada di permukaan bumi untuk terus mendukung kehidupan makhluk-makhluk bumi. Lebih singkatnya, siklus hidrologi adalah rangkaian proses perputaran air dari permukaan bumi ke atmosfer dan kembali lagi ke permukaan bumi dalam bentuk hujan, salju, embun.

Segala macam sumber air di permukaan bumi mengalami penguapan disebabkan oleh panas matahari. Sumber air tersebut antara lain lautan, sungai, danau, rawa, tumbuhan dan lain-lain. Dalam perjalanannya dari permukaan bumi menuju atmosfer dan kembali lagi ke permukaan bumi, air mengalami berbagai macam perubahan wujud dan bentuk, antara lain menguap, mengembun dan mencair kembali.

Alur siklus hidrologi secara sederhana dimulai dari proses penguapan (evapotranspirasi (evaporasi dan transpirasi)), kemudian terkondensasi dan membentuk awan, kemudian awan terbang dibawa angin dan kemudian turun hujan atau salju (presipitasi). Air hujan sebagian diserap ke dalam tanah (infiltrasi) dan bahkan terus meresap hingga kedalaman tertentu dan mencapai air tanah (perkolasi). Sebagiannya lagi terus mengalir melalui permukaan tanah, sungai, alur hingga kembali ke laut (limpasan/run off (aliran permukaan)). Hal ini menyebabkan jumlah air di permukaan bumi relatif tetap dan tidak berkurang. Hanya saja yang menjadi ancaman adalah tingginya tingkat pencemaran air sehingga berkurangnya jumlah air bersih yang layak pakai. Selain itu, perubahan iklim global menyebabkan distribusi hujan menjadi terganggu dan tidak seimbang.
Agar lebih jelas, simak videonya disini.


















Siklus Hidrologi


Berikut daftar istilah dalam proses hidrologi :
Evaporasi, adalah proses perubahan air dari bentuk cair ke bentuk gas oleh sinar matahari. Sumber air yang diuapkan berasal dari tempat-tempat penampungan air seperti laut, sungai, waduk, irigasi dan saluran-saluran air.
Transpirasi, adalah proses penguapan oleh sinar matahari yang terjadi pada tumbuhan.
Evapotranspirasi, merupakan gabungan dari proses evaporasi dan transpirasi yang sama-sama merupan proses penguapan.
Kondensasi, merupakan perubahan bentuk dari uap air menjadi titik-titik air sebagai reaksi pendinginan.
Presipitasi, merupakan segala bentuk curahan air baik berupa hujan, salju, embun, hujan es, dan lain-lain.
Infiltrasi, adalah proses masuknya air ke dalam pori-pori tanah.
Perkolasi, adalah proses penyerapan air hingga kedalaman tertentu dan mencapai air tanah.
Limpasan (run off), adalah air yang mengalir di atas permukaan tanah, baik melalui parit atau saluran- saluran, sungai, hingga menuju ke laut.
Macam-macam siklus hidrologi




Siklus Pendek / Siklus Kecil

1. Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari

2. Terjadi kondensasi dan pembentukan awan

3. Turun hujan di permukaan laut.

 

Siklus Sedang


1.Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari
2.Terjadi kondensasi
3.Uap bergerak oleh tiupan angin ke darat
4.Pembentukan awan
5.Turun hujan di permukaan daratan
6.Air mengalir di sungai menuju laut kembali.




Siklus Panjang / Siklus Besar



1.Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari
2.Uap air mengalami sublimasi
3.Pembentukan awan yang mengandung kristal es
4.Awan bergerak oleh tiupan angin ke darat
5.Pembentukan awan
6.Turun salju
7.Pembentukan gletser
8.Gletser mencair membentuk aliran sungai
9.Air mengalir di sungai menuju darat dan kemudian ke laut.

Sabtu, 04 Oktober 2014

TEKTONISME


TEKTONISME

By: Supriyadi


Tektonisme adalah proses yang terjadi akibat pergerakan, pengangkatan, lipatan dan patahan pada struktur tanah di suatu daerah. Yang di maksud lipatan adalah bentuk muka bumi hasil gerakan tekanan secara horizontal yang menyebabkan lapisan permukaan bumi menjadi berkerut dan melipat. Patahan adalah permukaan bumi hasil dari gerakan tekanan horizontal dan tekanan vertikal yang menyebabkan lapisan bumi menjadi retak dan patah. Ada dua jenis tektonisme, yaitu Epirogenesa dan Orogenesa. Epirogenesa adalah proses perubahan bentuk daratan yang disebabkan oleh tenaga lambat dari dalam bumi dengan arah vertikal, baik ke atas maupun ke bawah melewati daerah luas. Ada dua Epirogenesa:

Epirogenesa positif, yaitu gerakan yang mengakibatkan turunnya lapisan kulit bumi, sehingga permukaan air laut terlihat naik.

Epirogenesa negatif, yaitu gerakan yang mengakibatkan naiknya lapisan kulit bumi, sehingga permukaan air laut terlihat turun.

Orogenesa adalah pergerakan lempeng tektonis yang sangat cepat dan meliputi wilayah yang sempit. Tektonik Orogenesa biasanya disertai proses pelengkungan (Warping, lipatan (Folding, patahan (Faulting) dan retakan (Jointing). Serta salah satu contoh hasil Orogenesa adalah deretan Pegunungan Mediterania.

Mengenali Tektonisme dan Dampaknya

Salah satu pembentuk raut muka Bumi adalah aktivitas tektonisme yang terjadi karena adanya tenaga dari dalam Bumi. Tektonisme akan mengubah bentuk muka Bumi menjadi naik atau turun. Adanya patahan, lipatan, dan retakan pada kulit Bumi menjadi bukti adanya gerakan tektonisme. Pegunungan merupakan salah satu bentang alam yang dibentuk oleh aktivitas ini. Pegunungan merupakan rangkaian gunung yang terbentuk akibat kerak Bumi (litosfer) mengalami pelipatan atau patahan. Contoh pegunungan di Indonesia yaitu: Pegunungan Bukit Barisan (Sumatra), Pegunungan Seribu (Jawa), dan Pegunungan Verbeek (Sulawesi). Lipatan dan patahan merupakan gerak orogenesa yang termasuk dalam jenis proses diastropisme. Masih ingat bukan, apa yang dimaksud proses diastropisme? Gerakan diastropisme menyebabkan kerak Bumi retak, terlipat, bahkan patah. Gerakan ini dibedakan menjadi dua, yaitu gerak epirogenetik dan orogenetik.

a. Gerak Epirogenetik

Gerakan ini akan mengubah bentuk muka Bumi dalam waktu yang sangat lambat hingga membutuhkan waktu lama. Efek gerakan ini meliputi wilayah yang sangat luas. Gerakan ini masih dibedakan lagi menjadi gerak epirogenetik positif dan epirogenetik negatif. Fenomena epirogenetik positif pernah terjadi di Kepulauan Maluku dan Banda. Sedangkan fenomena epirogenetik negatif pernah terjadi di Pulau Buton dan Timor.

b. Gerak Orogenetik

Berkebalikan dengan gerak epirogenetik, gerak orogenetik berlangsung singkat dan meliputi wilayah yang sempit. Gerak ini berpengaruh besar terhadap terbentuknya pegunungan, patahan, retakan, dan lipatan.

1) Lipatan

Terjadinya lipatan disebabkan oleh gerakan dari dalam Bumi akibat tekanan yang besar dan temperatur yang tinggi, sehingga menjadikan sifat batuan menjadi cair liat atau plastis. Keplastisannya ini membuat batuan tersebut akan terlipat apabila ada dorongan tenaga tektonik. Lipatan lapisan Bumi ini akan membentuk pegunungan, yang punggungnya disebut antiklinal dan wilayah lembahnya disebut sinklinal. Perbedaan tingkat keplastisan dan kekuatan tenaga tektonik menjadikan batuan terlipat dengan berbagai bentuk.

a) Lipatan Tegak

Dihasilkan dari kekuatan yang sama yang mendorong dua sisi dengan seimbang.

b) Lipatan Miring

Ketika kekuatan tenaga pendorong di salah satunya sisi lebih kuat, maka akan menghasilkan kenampakan yang salah satu sisinya lebih curam.

c) Overfold

Saat tekanan bekerja pada salah satu sisi dengan lebih kuat, sisi tersebut akan terlipat sesuai arah lipatan.

d) Lipatan Recumbent Fold

Terbentuk pada saat lipatan yang satu menekan sisi yang lain, menyebabkan sumbu lipat hampir datar.

e) Lipatan Overthrust

Terbentuk ketika tenaga tekan menekan satu sisi dengan kuatnya hingga menyebabkan lipatan menjadi retak.

f) Nappe

Terbentuk setelah lipatan overthrust rusak sepanjang garis retakan. Dalam perkembangannya, wilayah sinklinal maupun antiklinal mengalami proses perombakan oleh tenaga yang berasal dari luar Bumi. Contohnya, wilayah sinklinal mengalami perombakan sampai membentuk rangkaian pegunungan dan lembah berselang-seling yang selanjutnya disebut sinklinorium. Begitu pula dengan antiklinal yang terombak hingga terbentuk rangkaian pegunungan dan lembah yang selanjutnya disebut antiklinorium.

2) Patahan

Patahan terjadi ketika kulit Bumi yang bersifat padat dan keras mengalami retak atau patah pada saat terjadi gerakan orogenesa. Pada patahan, massa batuan mengalami pergeseran titik atau tempat yang semula bertampalan (kontak) kemudian berpindah lokasi (dislocated/displaced). Gerakan ini menimbulkan terjadinya patahan dengan gaya tekan (compression) dan gaya regangan (tension). Ekspresi topografi dari adanya patahan sangat beraneka ragam, antara lain gawir sesar, triangle facet, lembah sesar, fault, rift, graben, horst, dan basin (cekungan struktural). Pada perkembangannya, kenampakan ini mengalami perubahan akibat tenaga endogen. Ciri adanya patahan dapat kamu kenali dari adanya perbedaan ketinggian yang mencolok. Di Indonesia, beberapa patahan dapat kamu jumpai di Semangko (Sumatra) dan Piyungan (Yogyakarta).

 

c. Dampak Tektonisme

Dinamika Bumi oleh tenaga tektonisme akan memberi dampak pada banyak hal. Dampak nyata dapat langsung dilihat pada muka Bumi yang terpengaruh secara langsung. Pergeseran kerak Bumi mendorong terbentuknya berbagai jenis pegunungan dan cekungan sedimen. Lebih lanjut terjadinya tekanan, regangan, dan deformasi pada kerak Bumi (pengangkatan, amblesan, retakan, patahan, serta lipatan) didukung dengan adanya gaya gravitasi Bumi akan menimbulkan terjadinya erosi, longsoran, dan sedimentasi. Dari proses yang terjadi ini dapat menimbulkan bencana alam yang mengakibatkan kerugian materiil, harta benda, dan nyawa.

Beberapa dampak di atas dapat digolongkan sebagai dampak negatif. Ada juga dampak positif yang ditimbulkannya, meskipun terkadang banyak orang tidak menyadari. Kantong-kantong minyak dan gas alam banyak ditemukan di lipatan-lipatan dan sesar-sesar batuan yang kondisinya memenuhi syarat. Salah satunya terdapat di sisi utara maupun selatan rangkaian pegunungan yang melintasi Pulau Jawa.

 

Jumat, 03 Oktober 2014

Litosfer

Litosfer


A. Terjadinya Batuan
            Litosfer adalah kulit terluar dari planet berbatu. Litosfer berasal dari kata Yunani, Lithos yang berarti berbatu, dan Spere yang berarti padat. Litosfer berasal dari kata Lithos artinya batuan, dan Spere artinya lapisan. Secara harfiah litosfer adalah “lapisan batu” (the stone sphere). Litosfer merupakan lapisan batuan/ kulit bumi yang bulat dengan ketebalan kurang lebih 1200 km. Pada lapisan ini pada umumnya terjadi dari senyawa kimia yang kaya akan Si02, itulah sebabnya lapisan litosfer sering dinamakan lapisan silikat dan memiliki ketebalan rata-rata 30 km yang terdiri atas dua bagian, yaitu Litosfer atas (merupakan daratan dengan kira-kira 35% atau 1/3 bagian) dan Litosfer bawah (merupakan lautan dengan kira-kira 65% atau 2/3 bagian). Menurut Klarke dan Washington, batuan atau litosfer di permukaan bumi ini hampir 75% terdiri dari silikon oksida dan aluminium oksida.

Terdapat dua tipe litosfer:
· Litosfer samudra, yang berhubungan dengan kerak samudra dan berada di dasar samdura.
· Litosfer benua, yang berhubungan dengan kerak benua.

B. Batuan Pembentuk Kulit Bumi
            Batuan/batu adalah sejenis bahan yang terdiri dari mineral dan di kelaskan menurut komposisi mineral. Litosfer merupakan lapisan kerak bumi yang paling atas yang tersusun oleh batuan dan mineral. Induk segala batuan adalah magma. Magma adalah batuan cair dan pijar yang bersuhu tinggi dan mengandung berbagai unsur mineral dan gas.

Batuan diefinisikan sebagai semua bahan yang menyusun kerak bumi dan merupakan suatu agregat (kumpulan) mineral-mineral yang telah menghablur.
  1. Kandungan mineral, yaitu jenis-jenis mineral yang terdapat di dalam batuan ini.
  2. Tekstur batu, yaitu ukuran dan bentuk hablur-hablur mineral di dalam batu
  3. Stuktur batu, yaitu susunan hablur mineral di dalam batu
  4. Proses pembentukan

Berdasarkan proses terjadinya, batuan dapat dibagi menjadi tiga bagian :
(1) Batuan Beku
Ini dikarenakan magma mengalami pendinginan dan zat cair pijar berangsur-angsur menjadi dingin dan beku :
(a) Batuan beku dalam (plutonik)

Hasil pembekuan magma di dalam litosfer, sehingga proses pendinginannya sangat lambat.
Contoh batuan beku dalam adalah granit, diotit, dan gabbro
Menghasilkan : batuan beku dengan kristal penuh yang besar-besar (holokristalin).

(b) Batuan beku korok (porfirik)
Pembekuannya berlangsung lebih cepat karena magma telah meresap diantara lapisan-lapisan litosfer. Batuan beku korok terjadi dari magma yang membeku di lorong antara dapur magma dan permukaan bumi.
(c) Batuan beku luar (episif)
Magma berubah menjadi larva yang meleleh, dan proses pembekuan larva di permukaan bumi menjadi cepat.
Menghasilkan : lelehan batuan beku dengan kristal yang halus bahkan ada yang tidak berkristal.
Untuk membedakan batuan beku dengan batuan lainnya terdapat 3 ciri utama sebagai berikut:
  1. Tidak mengandung fosil
  2. Teksturnya padat, mampat, sarta strukturnya homogen dengan bidang permukaan ke semua arah sama
  3. Susunan sesuai dengan pembentukannya

Tekstur batuan beku dapat di kelompokan menjadi 3 jenis sebagai berikut
  1. Faneritik, yaitu kondisi batuan dalam bentuk kristalin.
  2. Forfiritik, yaitukondisi tekstur batuan yang mengandung fenikris (Kristal besar) yang terikat dalam massa dasar yang halus.
  3. Afanitik, yaitu meninggalkan batuan dalam susunan Kristal butir halus atau seluruhnya berupa benda gas.

Berdasarkan teksturnya, batuan beku dibedakan menjadi 2 sebagai berikut
  1. Batuan beku pluotonik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang relative lebih lambat sehingga mineral-mineral penyusunnya relatif besar. Contohnya seperti gabbro, diorit, dan granit
  2. Batuan beku vulkanik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang sangat cepat sehingga mineral penyusunnya lebih kecil. Contihnya adalah basalt, andesit, dan dacitea

(2) Batuan Sedimen (Endapan)
Berasal dari batuan beku yang telah tersingkap oleh tenaga dari luar akan diangkut ke tempat lain dan di tempat baru itulah lalu diendapkan. Batuan ini merupakan batuan yang terbetuk oleh proses geomorfologi dan dipengaruhi oleh lamanya waktu. Batuan sedimen berdasarkan proses pembentukannya dibedakan menjadi 3 sebagai berikut.

  1. Sedimen klastik yang terbentuk oleh proses mekanik
Batuan sedimen klastik terbentuk melalui proses pengendapan dari material-material   yang mengalami proses transportasi
  1. Sedimen non-klastik yang terbentuk karena proses kimiawi
Batuan sedimen kimia tersebut melalui proses presipitasi dari larutan.sedimen non-klastik dibedakan atas dasar komposisinya. Sedimen non-klastik yang utamannya adalah batu gamping atau dolomite. Batuan non-klastik sebagai hasil evaporit (menguap), antara lain batu garam, denhidrit, dan gypsum, sedang dari unsur organic adalah batu bara. Contoh batuan sedimen kimiawi (non-klastik) antara lain travertine, stalagmite, dan stalagtit.
  1. Sedimen Organik
Batuan sedimen organic terbentuk dari gabungan sisa-sisa makhluk hidup. Batuan sedimen terbentuk melalui tiga cara utama yaitu pelapukan batuan lain (clastic), pengendapan (deposition) karena aktifitas biogenic, dan pengendapan (precipitation) dari larutan.

Batuan sedimen memiliki 3 ciri yang mudah dikenal sebagai berikut.
a.       Batuan endapan biasanya berlapis-lapis
b.      Mengandung sisa-sisa jasad atau bekasnya
c.       Adanya keseragaman yang nyata dari bagian-bagian berbentuk bulat yang menyusunnya.

Penanaman batuan sedimentasi biasanya berdasarkan besar butir penyusun batuan tersebut. Penanaman tersebut seperti berikut.
  1. Breksi
  2. Konglomerat
  3. Batu Pasir
  4. Batu Lanau
  5. Batu Lempung
Berdasarkan tenaga yang mengangkutnya, batuan sedimen dibagi menjadi beberapa bagian berikut
  1. Batuan sedimen aeris atau Aeolis, bila pemindahan disebabkan oleh angin, contohnya tanah loss
  2. Batuan sedimen glacial, bila pemindahan disebabkan oleh gletser, contohnya batu konglomerat
  3. Batuan sedimen aquatic, bila pemindahan disebabkan oleh air, contohnya lumpur
  4. Batuan sedimen marine, bila pemindahan disebabkan oleh air laut

(3) Batuan Metamorfosis atau batuan Metamorf
Batuan metamorphosis atau batuan metamorf merupakan batuan induk yang mengalami perubahan tekstur dan komposisi mineral pada fasa padat sebagai akibat perubahan kondisi fisika tekanan, temperature, atau tekanan dan temperature. Batu kuarsit merupakan perubahan dari batu pasir. Beberapa contoh batuan metamorf adalah gneiss, batu sabak, batu marmer, dan skist.

Batuan metamorf menyusun sebagian besar dari kerak bumi dan digolongkan berdasarkan tekstur dan dari susunan kimia, serta mineral (fasies metamorf). Mereka berbentuk jauh di bawah permukaan bumi oleh tegasan yang besar dari batuan di atasnya serta tekanan dan suhu tinggi.


C. Tenaga Geologi
Bentuk permukaan bumi merupakan hasil kerja tenaga geologi yang dibedakan menjadi berikut:
  1. Tenaga Endogen
Tenaga endogen, yaitu tenaga yang bertugas membentuk bentukan baru pada permukaan bumi menjadi lpatan dan patahan sehingga permukaan bumi tidak rata lagi. Tenaga endogen terbagi atas berikut.

a.      Tektonisme
Tektonisme adalah perubahan letak atau kedudukan lapisan bumi secara horizontal ataupun vertical. Gerak tektonisme dibagi menjadi 2 sebagai berikut.
1.      Gerak Epirogenesa
Gerak epirogenesa disebut dengan gerakan pembentuk benua. Gerak epirogenesa positif jika permukaan air laut mengalami kenaikan atau garis pantai berpindah ke arah darat. Gerak epirogenesa negative adalah jika permukaan air laut mengalami penurunan atau garis pantai berpindah kearah laut

Teori tentang pembentukan benua ada 2 macam sebagai berikut
a.      Teori Descrates dan Sues
Teori ini dikenal dengan teori konstraksi dimana bola bumi ketika menjadi dingin berkerut, akibatnya kulit bumi juga berkerut, itulah yang dikenal dengan pegunungan lipatan.
b.      Teori Wegener
Teori ini disebu dengan teori pergeseran atau apungan benua
c.       Teori Orogenesa
Gerak orogenesa disebut gerak pembentuk gunung, lipatan, dan patahan. Gerak orogenesa dapat juga menyebabkan terjadinya tanah runtuh atau terpisah satu dengan lainnya. Ada pula bagian-bagian yang justru tengelam atau mengalami penurunan disebut graben atau slenk.

  1. Vulkanisme
Tenaga tektonik dapat mengakibatkan gejala vulkanisme. Gejala vulkanisme berhubungan dengan aktifitas keluarnya magma di gunung api. Proses keluarnya magma ke permukaan bumi disebut erupsi gunung api. Proses vulkanisme terjadi karena adanya magma yang keluar dari zona tumbukan antar lempeng.

a.      Intrusi Magma
Intrusi magma dapat menghasilkan bentuk-bentuk sebagai berikut.
1.      Batholit, yaitu batuan beku yang terbentuk di dalam dapur magma
2.      Lakolit, yaitu batuan beku yang terjadi pada dua lapisan litosfer dan bentuknya menyerupai lensa cembung
3.      Keeping instrusi atau silis, yaitu sisipan magma yang membeku pada dua lapisan litosfer yang bentuknya tipis dan lebar.
4.      Gang korok, yaitu batuan hasil intrusi magma yang memotong lapisan litosfer (kulit bumi)


b.      Ekstruksi Magma
Jika dalam aktifitas vulkanisme magma dapat mencapai permukaan bumi maka gejala ini disebut dengan ekstruksi magma, atau dengan kata lain ekstruksi magma adalah keluarnya magma ke permukaan bumi. Bahan-bahan yang dikeluarkan gunung api (material vulkanis) dapa dikelompokan menjadi 3 golongan sebagai berikut.
1.      Bahan-bahan padat (efflata), yang terdiri atas bom (batu-batu besar), lapili (ukurannya sebesar kerikil), pasir, abu, debu.
2.      Bahan-bahan cair, bahan cair ini berupa lava, lahar panas, dan lahar dingin.
3.      Bahan-bahan gas (ekshalasi), gas-gas yang dikeluarkan gunung api dapat berupa gas belerang yang disebut sulfatar, berupa uap air disebut fumarol, dan jika yang dikeluarkan karbon dioksida disebut mofet.

Tanda-tanda gunung api akan meletus adalah suhu di sekitar kawah naik, banyak sumber air menjadi kering, sering timbul gempa gunung berapi, binatang banyak yang berpindah, dan sering terdengar suara gemuruh.

Pengaruh vulkanisme terhadap kehidupan manusia dapat menguntungkan dan dapat merugikan, pengaruh vulkanisme yang menguntungkan sebagai berikut.
  1. Abu vulkanik yang dikeluarkan bersifat menyuburkan tanah pertanian di sekitarnya,
  2. Gejala pasca vulkanik merupakan obyek wisata yang menarik.
  3. Menghasilkan bahan-bahan galian dan menghasilkan bahan bangunan
  4. Daerah gunung api yang tinggi merupakan daerah penangkap hujan, sehingga memungkinkan terjadinnya hujan alami yang berpengaruh baik terhadap ekosistem daerah tersebut.
Akibat yang merugikan dari peristiwa vulkanisme sebagai berikut.
  1. Pada waktu terjadi letusan apalagi disertai lahar panas, awan panas, atau bahan-bahan padat dalam jumlah besar akan menyebabkan banyak korban.
  2. Korban jiwa dapat terjadi akibat gas beracun yang dikeluarkan pada saat terjadi erupsi
  3. Bahan-bahan yang dikeluarkan gunung berapi kadang-kadang berhenti di daerah puncak dan di lereng-lereng sebagai lahar dingin. Hal tersebut akan merusak daerah yang dilaluinya.

  1. Tenaga Eksogen
Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar bumi. Berikut ini merupakan contoh tenaga eksogen.

a.      Erosi
Erosi adalah proses pengikisan yang berlangsung sangat lama. Proses erosi ini merupakan contoh tenaga eksogen.



1.      Erosi oleh air
Air dapat menyebabkan terjadinya proses erosi. Air yang dapat menyebabkan terjadinya erosi ini ialah air yang bergerak. Contoh proses erosi yang disebabkan oleh air ialah erosi yang terjadi di pinggir pantai atau lebih dikenal dengan abrasi.
2.      Erosi oleh angin
Angin terjadi karena perbedaan suhu dan tekanan di dua tempat, akibatnya akan terjadi hembusan udara dari daerah yang bersuhu dan bertekanan tinggi ke daerah yang bersuhu dan bertekanan rendah.
3.      Erosi oleh gletser
Erosi oleh gletser adalah erosi yang disebabkan oleh pergerakan salju atau es. Erosi ini terjadi di daerah yang bersuhu dingin tempat terdapatnya salju, misalnya di daerah kutub.

b.      Pelapukan
Pelapukan adalah proses perubahan struktur suatu benda yang tadinya padat dank eras menjadi lunak dan berongga. Penyebab terjadinya proses pelapukan ada tiga macam, yaitu fisika, kimia, dan biologi. Pelapukan karena factor fisika adalah pelapukan yang terjadi karena adanya tekanan fisik suatu benda pada benda yang mengalami pelapukan. Pelapukan yang disebabkan oleh factor kimia, yaitu pelapukan yang terjadi karena sifat suatu senyawa yang dapat melunakan struktur kimia suatu benda.

c.       Pengangkutan
Material yang sudah lapuk akan megalami pengangkutan oleh air mengalir, angin, es yang bergerak, dan gravitasi bumi.
1.      Pengangkutan oleh air mengalir, sangat bergantung kepada berat jenis atau besarnya butiran benda yang diangkut.
2.      Pengangkutan oleh angin. Angin memiliki daya angkut tidak sekuat air.
3.      Pengangkutan oleh gletser (es). Gletser mengangkut batuan berbutir besar dan kecil
4.      Pengangkutan karena gravitasi, misalnya terjadi pada tanah di daerah yang terjal.

d.      Pengendapan (Sedimentasi)
Material yang dibawa oleh air, angin, atau gletser pada akhirnya akan megendap di suatu tempat. Pengendapan dapat terjadi di muara sungai, lembah, lereng, pantai, dan lainnya.